Keluh Kesah Mengakses Anime - Heyazone

Keluh Kesah Mengakses Anime

Keluh Kesah Mengakses Anime

Mengunduh secara ilegal alias bajakan seakan sudah menjadi tradisi yang tak terelakkan dari para pecinta anime khususnya kita sebagai warga Indonesia yang motonya "Kalau ada yang gratis, kenapa harus bayar?"

Ya, saya katakan kita, karena saya juga termasuk di dalamnya. Banyaknya website yang menyediakan anime bajakan secara gratis dan mudah diunduh menjadi alasan mengapa kita merasa berat merogoh kocek hanya untuk mendapat status member premium di website anime legal saat ini.

Sebut saja Crunchyroll, Daisuki, atau Theanimenetwork yang menyediakan layanan manga dan streaming anime legal secara online. Dengan menjadi anggota premium yang artinya kita harus berlangganan dengan jumlah biaya tertentu, situs-situs tersebut akan memberikan akses bagi kita untuk menikmati anime maupun manga yang dilisensi oleh produsen terkait. Atau dengan cara lain, kita bisa membeli CD Bluray dari anime yang kita sukai melalui Amazon atau sejenisnya yang mana harganya juga bikin mata sepet melihatnya.

Alternatif lain ada dari salah satu kanal YouTube bernama Muse Asia. Muse Communication Singapore Pte. Ltd. selaku perusahaan yang mengurusi akun tersebut mengunggah anime di YouTube dengan maksud untuk memberantas anime bajakan alias ilegal yang ada pada platform tersebut. Apakah gratis? Saya katakan, ya. Akan tetapi tak menutup kemungkinan bahwa kedepannya juga akan menerapkan sistem berlangganan. Permasalahannya di sini adalah bahasa takarir (subtitle) yang ditampilkan. Kanal ini menyajikan anime dengan takarir bahasa Inggris, atau paling tidak bahasa China (yang disederhanakan). Hal ini tentu jadi masalah besar bagi anilover Indonesia yang tidak mau ribet, atau yang dulunya sering bolos pelajaran bahasa Inggris.

Di Indonesia sendiri, beberapa waktu yang lalu tepatnya 2018, pernah ada satu layanan berlangganan streaming anime legal bernama Ponimu. Hadir menanggapi sulitnya pendistribusian anime di kawasan Asia Tenggara khususnya Indonesia, layanan ini tentu saja menyajikan anime dalam takarir bahasa Indonesia. Namun, sesuai yang saya jelaskan pada paragraf pertama, dan karena alasan itulah, akhirnya layanan Ponimu ini tutup pada akhir tahun 2019 kemarin.

Saya sendiri tidak terlalu mempermasalahkan dengan banyaknya website download maupun streaming anime yang ada saat ini, bahkan dari pihak produsen anime itu sendiri sebenarnya juga tak terlalu ambil pusing asalkan tidak diperjualbelikan, malahan hal tersebut membantu mereka dalam menaikkan kepopuleran anime.

Yang membuat saya sedikit jengkel hanyalah tindakan para admin di balik website-website tersebut yang beberapa, ya, saya katakan beberapa, terlalu banyak mengambil untung dari konten yang mereka tampilkan. Tak sedikit dari mereka yang menguangkan konten (anime) yang mereka upload. Dengan safelink yang berlapis-lapis, iklan yang bertumpuk-tumpuk, saya rasa mereka sudah lebih dari cukup untuk mendapat keuntungan. Bukankah itu sama saja dengan memperjualbelikan konten yang notabene ilegal tadi? Kalau hasilnya digunakan untuk beli/perpanjangan domain, hosting, atau sekedar beli kopi itu masih wajar. Tapi saya yakin dengan trafik ribuan kali kunjungan dalam sehari, mereka bisa dapat lebih dari itu.

Sejauh ini kita kenal istilah Fansub dan Fanshare. Fansub selaku kelompok yang melakukan penerjemahan anime baik dari bahasa Jepang langsung, maupun dari raw yang berbahasa Inggris dalam hal ini saya rasa lebih pantas dihargai usahanya daripada Fanshare yang hanya membagikan ulang hasil kerja Fansub. Namun, sejauh yang saya amati dalam forum diskusi anime, keberadaan Fansub tidak lebih terkenal daripada Fanshare yang jumlahnya bisa dibilang jauh lebih banyak.

Kita ingat portal anime Meownime (Fanshare) yang tutup pada pertengahan 2018 kemarin, popularitasnya jauh lebih besar daripada Yukisubs ataupun Tiramisubs yang merupakan Fansub. Selain itu masih adalagi Fanshare lain, seperti Kusonime atau Anikyojin yang tak kalah populer dari Meownime. Sedang Fansubs yang sebenarnya seakan tak mendapat tempat di bookmark browser kita. Miris.

Untuk kasus manga sendiri, sebenarnya teman-teman bisa dengan mudah membeli di toko buku terdekat, dengan begitu secara tidak langsung kita sudah memberi dukungan pada para mangaka. Memang butuh waktu untuk bisa tersedia cetak dalam bahasa Indonesia, namun kalau tidak sabaran, teman-teman bisa akses situs penyedia manga seperti Mangaplus, hanya saja, jadikan itu sebagai preview dan bila sudah tersedia di toko buku, silahkan beli versi cetaknya.

Bagaimanapun saya juga tidak terlalu peduli bagaimana cara teman-teman mendapatkan akses untuk menikmati anime ataupun manga, sesuaikan lah kemampuan, kalau bisa, support lah distributor dengan langganan pada layanan yang menyediakan anime berlisensi, atau kalau terpaksa unduhlah dari Fansub yang telah bekerja keras menerjemahkan ke dalam bahasa yang kita pahami, support mereka, jangan unduh dari Fanshare yang terlalu banyak mengambil keuntungan. Kalau saya pribadi lebih prefer ke Muse Asia, selagi gratis dan yang pasti legal. Bagaimana dengan teman-teman?

Tidak ada komentar untuk "Keluh Kesah Mengakses Anime"