Menonton Anime Bertakarir Indonesia: Pakai Honorifik Atau Lokalisasi? - Heyazone

Menonton Anime Bertakarir Indonesia: Pakai Honorifik Atau Lokalisasi?

Honorifik atau Lokalisasi

Jepang merupakan negara yang menjunjung tinggi nilai kesopanan. Orang-orang di sana terkenal akan kepribadiannya yang sopan namun tidak berlebihan. Mereka menunjukkannya ketika saling berinteraksi satu sama lain. Bagaimana cara mereka berbicara dengan seseorang, cara mereka saling memanggil, kebiasaan mereka di tempat umum agar tidak menggangu orang lain, dan masih banyak lagi.

Bagi kita yang memang belum pernah menyaksikan langsung bagaimana perilaku orang-orang Jepang sehari-hari, menonton anime ataupun dorama sudah cukup merefleksikan kehidupan di sana, walaupun tidak akan sama persis dengan apa yang terjadi sesungguhnya.

Contoh mudahnya yang dapat kita lihat di anime adalah, kebiasaan untuk memanggil nama orang dengan ditambahi sufiks berupa -san, -sama, -dono, diakhir nama orang yang dipanggil menunjukkan bahwa mereka menghormati orang yang mereka panggil. Di sisi lain, untuk menunjukkan hubungan kedekatan, mereka menggunakan sufiks -kun, -chan atau hanya dengan menyebut nama saja menunjukkan mereka punya hubungan dekat satu sama lain. Contoh seperti inilah yang disebut dengan Honorifik.

Beberapa anime memang diterjemahkan dengan tetap mempertahankan honorifik khas Jepang. Namun, perlukah penggunaan tersebut tetap diterapkan, sedang kita memiliki bahasa ibu yaitu Bahasa Indonesia? Misal penyebutan karakter Yamada-san, yang dalam bahasa Indonesia bisa disebut dengan Bapak Yamada. Bukankah terlihat sama sopannya? Jadi, perlukah penggunaan honorifik untuk terjemahan bahasa Indonesia?

Apa Itu Honorifik?

Menurut KBBI, honorifik berkenaan dengan penggunaan ungkapan penghormatan dalam bahasa untuk menyapa orang tertentu. Atau secara umum, honorifik dapat diartikan sebagai bentuk untuk menyatakan sikap kesopanan dengan tujuan untuk menghormati lawan bicara.

Sebagai contoh penggunaan honorifik, dalam bahasa Inggris kita mengenal istilah Mr/Mrs atau yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai Tuan/Nyonya.

Pada bahasa Jepang sendiri, honorifik digunakan berdasarkan status sosial dan tingkat keakraban lawan bicara atau orang ketiga yang dibicarakan. Penggolongannya pun juga cukup kompleks, teman-teman bisa lihat lebih lengkap pada Tuturan honorifik dalam bahasa Jepang. Karena saya di sini tidak akan membahas semuanya, yang saya ambil hanya poin tentang penggunaan sufiksnya saja.

Sufiks adalah afiks atau imbuhan yang dibubuhkan pada akhir sebuah kata. Sufiks merupakan kebalikan dari prefiks.

Dalam bahasa Jepang, penggunaan sufiks yang lebih luas digunakan ketika menyebut atau memanggil nama seseorang. Cara memanggil mereka berdasarkan hubungan kedekatan atau tingkat keakraban satu sama lain. Mereka terkadang juga memanggil tanpa menggunakan sufiks apapun.

Contoh sufiks yang digunakan dalam bahasa Jepang adalah san (さん) yang dapat diartikan sebagai "Tuan", "Nyonya", atau "Nona". Ada pula sama (様) yang penggunaannya lebih sopan daripada san. Lalu masih ada kun (君), chan (ちゃん) , tan (たん), dan masih banyak lagi. Lebih lengkapnya silahkan teman-teman baca pada Gelar kehormatan Jepang.

Penggunaan Honorifik Pada Takarir

Takarir (sulih teks), atau yang sering kita sebut dengan subtitle merupakan penyampaian dialog dalam bentuk teks dalam film dan acara televisi, biasanya di bagian bawah layar. Teks yang dimaksud merupakan penerjemahan dialog dari bahasa asing juga terkadang berisi beberapa informasi tambahan.

Dalam menerjemahkan bahasa untuk membuat sebuah takarir, perlu memerhatikan aspek-aspek tertentu agar makna atau maksud dari tayangan dapat ditangkap tanpa ada salah pengertian. Salah satu aspek tersebut adalah penggunaan honorifik.

Sebenarnya, bukan hanya pada anime atau dorama saja. Penggunaan honorifik pada takarir juga bisa kita lihat pada film-film barat atau Korea.

Namun, perlukah dalam pembuatan takarir harus tetap menggunakan honorifik sesuai bahasa asalnya, tau lebih baik jika dilokalisasi, dalam artian disesuaikan dengan bahasa Indonesia tanpa merubah makna sebenarnya?

Mengapa Honorifik Diperlukan?

Alasan utama mengapa dalam penerjemahan lebih memilih untuk tetap menggunakan honorifik sesuai dengan bahasa Jepangnya (dalam hal ini kita kembali membahas tentang anime) adalah agar ada kesesuaian dengan audio. Misal dalam audio mengatakan Yamada-san, maka dalam takarir tetap ditulis dengan Yamada-san. Dengan begitu, apa yang didengar di audio dengan apa yang dibaca pada takarir memiliki kesesuaian.

Beberapa pendapat juga menyebutkan bahwa penggunaan honorifik pada takarir lebih menyatu dengan cerita. Dengan begitu, hubungan antar tokoh dapat terlihat jelas. Misalkan nama Yamada Ichirou, jika dipanggil dengan Ichirou saja maka ini menunjukan hubungan yang sangat dekat, begitu juga dengan panggilan nama marga Yamada yang menunjukkan hubungan yang cukup dekat jika dibandingkan dengan memanggi Yamada-san. Bagi saya ini bukan masalah, selagi kita paham mengenai tuturan pemanggilan nama seperti ini.

Mengapa Honorifik Tidak Diperlukan?

Alasan paling mendasar adalah karena kita punya bahasa Indonesia. Tentu saja dengan penerjemahan yang tepat, honorifik dalam bentuk apapun dapat dilokalisasi ke dalam bahasa Indonesia. Bagi orang awan, hal ini tentu saja jauh lebih mudah untuk dipahami.

Misal penggunaan sufiks senpai sebagai penanda kesenioran seseorang, sebut saja Ichirou-senpai yang bila disulih ke dalam bahasa Indonesia akan menjadi Kak Ichirou. Tentu saja itu tidak akan merubah makna honorifik tersebut dan lebih mudah diterima bagi orang yang tidak mengetahui arti sufiks tersebut. Atau pada contoh lain, Yamada-san yang bila diterjemahkan menjadi Bapak Yamada. Maknanya akan tetap sama.

Saya sendiri juga setuju dalam penerjemahan untuk memukul rata honorifik ke dalam bahasa Indonesia asalkan pengartian sesuai dan konsisten. Karena dalam banyak kasus, orang yang sama dapat dipanggil dengan sebutan yang berbeda-beda. Sehingga penerjemahan honorifik perlu memerhatikan hubungan antar tokoh juga agar tidak ada salah pengartian yang menyebabkan kebingungan bagi pembaca takarirnya.

Semua berakhir pada selera masing-masing juga, ada yang memang lebih nyaman dengan tetap mempertahankan honorifik, ada pula yang lebih memilih untuk menggunakan bahasa Indonesia karena bahasa Indonesia bisa mewakili arti dari honorifik itu sendiri.

Tidak ada komentar untuk "Menonton Anime Bertakarir Indonesia: Pakai Honorifik Atau Lokalisasi? "